KIAT UNTUK MENERIMA DIRI ANDA

Oleh: Agustiningsih

Kata penerimaan diri tidaklah asing lagi untuk diperbincangkan. Menurut Chaplin (1989) penerimaan diri adalah sikap yang pada dasarnya merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas serta bakat-bakat sendiri, dan pengakuan akan keterbatasan-keterbatasan sendiri.Penerimaan diri atau self acceptence merupakan salah satu komponen untuk menggapai mental yang sehat.

Menurut salah satu tokoh psikologi yaitu Abraham Maslow mengatakan bahwa ciri dari individu yang mengaktualisasikan diri salah satunya adalah menerima diri apa adanya. Selain itu Allport berpendapat bahwa individu yang dinyatakan memiliki mental yang sehat yaitu individu yang mampu menerima kelebihan serta kekurangan pada dirinya apaadanya

Penerimaan diri ini dibagi menjadi 2 yaitu penerimaan diri bersyarat dengan penerimaan diri tanpa syarat. Dalam penerimaan diri bersyarat ini, anda akan cenderung menerima diri anda apabila anda berpendapat bahwa anda tampil dengan baik serta memperoleh persetujuan dari orang yang ada disekitar anda. Sehingga, ketika anda melakukan sesuatu hal yang tidak sesuai dan tidak disetujui oleh orang disekitar, anda akan merasa bersalah dan ini akan menyebabkan anda merasa cemas.

Sedangkan penerimaan diri tanpa syarat merupakan penerimaan diri yang perlu ada pada diri anda. Sebab dengan penerimaan diri tanpa syarat ini akan banyak mencegah anda untuk mengalami kecemasan. Apabila anda menerima diri anda tanpa syarat, anda akan menyadari kelemahan serta kelebihan pada diri anda. Segala sesuatu yang anda lakukan bukan karena ingin mendapatkan pujian serta persetujuan dari orang lain. Pada umumnya, individu dengan penerimaan diri tanpa syarat ini akan cenderung mampu menerima kritik dari orang lain serta tidak akan merasa cemas apabila perilaku yang ia tampilkan tidak mendapat persetujuan dari orang lain. Karena ia sadar bahwa dirinya itu terdiri dari dua hal yaitu kebaikan serta keburukan atau kelemahan dan kelebihan.

Menurut Albert Ellis (2002) ada beberapa cara untuk menggapai penerimaan diri tanpa syarat, diantaranya yaitu:

1. Anda perlu berfikir bahwa anda merupakan individu yang unik.
2. Membuat daftar hal-hal apa saja yang telah anda lakukan serta yang tidak anda lakukan untuk mencapai kebahagian dalam hidup anda.
3. Membuat keputusan untuk tidak melakukan penilaian secara global terhadap diri sendiri. Ini perlu dilakukan karena setiap perilaku yang anda lakukan ada yang baik dan ada yang buruk.
4. Menanamkan pemikiran pada diri anda bahwa "Apa yang anda lakukan adalah baik" atau "Apa yang anda lakukan adalah buruk". Dan anda perlu menghindari penilaian secara global bahwa "Saya adalah baik" atau "Saya adalah buruk". Jadi, yang perlu anda nilai adalah perilaku anda sebagai bagian dari diri anda, bukan memberikan penilaian secara keseluruhan tentang diri anda.

IQ, EQ, SQ, dan Q

Oleh: Subhan El Hafiz

Awalnya kita mengenal IQ yang memang merupakan Q pertama yang diperkenalkan dan dibahas dalam ilmu psikologi. Seiring berjalannya waktu muncul EQ, SQ, lalu ESQ, AQ, dan Q-Q lainnya. Tapi apakah Q itu sebenarnya?

Q adalah singkatan dari quotient, sedangkan IQ adalah Intelligent Quotient. Makna quotient sendiri adalah hasil bagi, sedangkan konsep IQ adalah skor rata-rata kecerdasan seseorang. Konsep rata-rata digunakan untuk menjelaskan bahwa skor IQ tidak bersifat mutlak, yaitu: skor 120 , misalnya, adalah nilai rata-rata dari beberapa aspek kecerdasan yang diukur. Berdasarkan hal ini, IQ dalam ilmu psikologi sering dijelaskan dalam rentang tertentu, salah satunya IQ 90-110 adalah normal.

Namun bagaimana dengan EQ dan SQ?

Sebenarnya dua istilah tersebut tidak tepat untuk menjelaskan konsep kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Penggunaan Q baru tepat jika sudah dilakukan pengukuran tingkat kecerdasan masing-masing dari kedua aspek tersebut. Jika belum dilakukan kuantifikasi, maka penggunaan istilah yang tepat adalah Emotional Intelligent (EI) dan Spiritual Intelligent (SI).

Sebenarnya, Goleman (pencetus EI) dan Zohar (pencetus SI) tidak pernah memberikan “Q” pada konsep mereka. Bahkan buku mereka (dalam bahasa aslinya) berjudul Emotional Intelligent (Goleman) dan Spiritual Intelligent (Zohar). Namun untuk keperluan marketing, di Indonesia dilakukan perubahan konsep dengan memberikan “Q”.

Lalu bagaimana dengan Q yang lain?

Sejauh ini, dalam psikologi baru ada tiga konsep kecerdasan, yaitu: kognitif, emosi (EI), dan spiritual (SI). Namun SI sesungguhnya masih menyisakan missing-link yang harus terus diteliti dan dikembangkan agar konsepnya utuh. Sedangkan Q-Q yang lain adalah gabungan konsep dari beberapa konsep yang tiga tersebut. Berbagai pola penggabungan menyebabkan muncul berbagai Q yang lain.

Untuk pengguna jasa psikologi, mengenai banyaknya Q dalam ranah ilmu psikologi perlu menyikapi secara kritis. Secara umum segala aspek psikologis dapat diukur, namun pengukurannya membutuhkan keajegan dan validitas agar hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu perlu bagi konsumen untuk bertanya dan menggali lebih jauh apabila berniat melakukan tes psikologi.